Syiar Islam di Bangkahulu (Dinasti Sungai Lemau Bagian III - Selesai)

Syiar Islam di Bangkahulu (Dinasti Sungai Lemau Bagian III - Selesai)
Masjid Jamik inilah diduga dahulunya Masjid Agung Masjid Agung yang didirikan oleh Daeng Makrupa, anak Daeng Makulle
Diketahui bahwa naskah tertua adalah tahun 998 H, sedangkan naskah Melayu Bengkulu yakni tahun 938 H. Jadi, naskah Melayu Bengkulu menjadi yang tertua karena lebih tua 60 tahun dari naskah tertua yang telah tercatat hari ini.

Surau Lama

KOPICURUP.ID - Datuk Nyai menikah dengan Daeng Makulle mendapatka 7 orang anak, 1. Encik Badaria 2. Daeng Makrupa 3. Encik Ismail 4. Daeng Meriwa 5. Encik Sakdia 6. Encik Sopia 7. Encik Juriah. Daeng Makrupa kawin dengan orang Bintuhan, Daeng Meriwa menikah dengan Siti Patimah anak Syeikh Achmad Gunawi seorang Kapten, bangsawan dari Bagdad Irak. Encik Sakdia menikah dengan Raden Sangnata kemenakan Raden Tumenggung Wirio Adiningrat dari Madura keturunan Brawijaya, Raja Majapahit sedangkan Encik Juriah menikah dengan Raden Tumenggung Wirio Adiningrat anak Sultan Bangkalan Madura. Kemenakan Daeng Makrupa, anak Daeng Meriwa, Daeng Indra Alam menikah dengan Encik Dayang Siti Jena mempunyai keturunan Siti Jenibah. Siti Jenibah menikah dengan Sayid Muhammad Zen Al Madani, seorang Syeikh dari Hendramaut Tanah Arab. Ketika itu, Tuan Syeikh Sayid Muhammad Zen Al Madani mengajar mengaji dan melakukan Syiar Islam mendirikan sebuah pondok pengajian yang dikenal oleh orang Bengkulu sebagai Surau Lama.

Semakin hari semakin bertambah saja jemaah Tuan Syeikh Said Muhammad Zen Al Madani hingga pondok pengajiannya tidak mampu lagi menampung jemaah pengajian itu. Untunglah Said Muhammad Zen AI Madani dibantu oleh seorang kemenakannya, Raja H. Junaidi melakukan Syiar Islam. Daeng Makrupa melihat situsai yang demikian menyarankan cucunya tersebut untuk pindah ke Masjid Agung yang lebih luas sehingga mampu menampung jemaah yang semakin bertambah banyak tersebut.


Sementara itu, H.Sutan Muhammad Zahab menambah pengetahuan berguru kepada Tuan Said Muhammad Zen Al Madani membantu pula melakukan syiar Islam di Masjid Agung. Tuan Said Muhammad Zen Al  Madani mempunyai 3 orang anak, yang pertama diberi nama Syarif Alwi. Setelah ia tumbuh dewasa Syarif Alwi dijodohkan dengan anak Pangeran Sumonegoro yang dibawa dari Yogyakarta. Pangeran Sumonegero ketika itu tinggal di Tengah Padang membuat rumah beratap ijuk dan memiliki sebuah kereta kencana, anak kedua dan ketiganya bemama Saripa Gedang dan Saripa Kecik, keduanya kembali ke Hendramaut.

Setelah wafat Tuan Said Muhammad Zen Al Madani dimakamkan di Surau Lama tempat ia pertama kali melakukan syiar Islam. Surau Lama itu hingga hari ini masih berdiri, namun terbengkalai dan disia-siakan. Lokasi persis Surau Lama berdampingan dengan Makam Raden Sentot Ali Basyah Abdul Mustapa Prawiradirja di Bajak Bengkulu. Raja H. Junaidi kemudian menggantikan Pamannya Tuan Said Muhammad Zen Al Madani menjadi seorang ulama terkemuka di Bengkulu melakukan syiar Islam. bekerjasama dengan H. Sutan Muhammad Zahab, yang menjadi ulama dan Imam di Masjid Agung. Raja H. Junaidi menikah dengan Raden Ayu Kencena Ungu anak Raden Muhammad Zen Kepala Devisi Lais (1820-1833), mendapatkan seoraog anak diberi nama Raden H. Abdul Khalik.

H. Sutan Muhammad Zahab dijodobkan dengan adik kandung Raja H.Junaidi bemama Siti Zainu Syaraf. Kemudian Siti Zainu Syaraf wafat H.Sutan Muhammad Zahab menikah kembali dengan Hj. Siti Khadijah keturunan Raja Natal. Raden H. Abdul Khalik dinikahkan dengan Siti Amanah, anak R. Sutan Muhammad Zahab dengan Hj.Siti Khadijah.

Raja H.Junaidi wafat dimakamkan berdampingan dengan gurunya Tuan Said Al Madani di Surau Lama. Hari ini makam kedua orang ulama ini rata dengan tanah.

Sedangkan H.Sutan Muhammad Zahab dalam kegiatan sehari-hari juga berperan sebagai seorang Kadhi namun lebih terkenal sebagai Tuan Kali. Istilah Kali tersebut mungkin berasal dari kata Kadhi dari kesalahan pendengaran namun semenjak Raden H.Abdul Khalik menjadi menantunya lahirlah gelar tambahan baru bagi H.Sutan Muhammad Zahab menjadi Tuan Kali Tuo sedangkan Raden H.Abdul Khalik mendapat julukan baru  menjadi Tuan Kali Mudo. H.Sutan Muhammad Zahab banyak meninggalkan tulisan tangan dalam bahasa Arab dan Melayu tentang Fiqih, ilmu pengobatan, Tasawuf dan Al Quran. H.Sutan Muhammad Zahab dimakamkan di Tengah Padang di dekat Puskemas, Raden H.Abdul Khalik meninggal dimakamkan di kompleks pemakaman  keluarganya di Bajak, sekitar 20 M dari makam Raden Seotot Ali Basyah Prawiradilja persis di tepi jalan berbatas dengan pagar namun hari ini makam tersebut telah diisi oleh jenazah lain yaitu Raden Iskandar sehingga menghilangkan makam Tuan Kali Mudo.

Ulama-Ulama Besar Dinasti Sungai Lemau

Huruf Jawi di Bengkulu disebut dengan istilah huruf dan Angka Arab Melayu. Berdasarkan tulisan huruf Arab Melayu yang masih terdapat hingga hari ini terbukti bahwa Bahasa Melayu telah dipergunakan sebagai bahasa pengantar di Kerajaan Sungai Lemau. Hingga saat ini, naskah berhuruf Jawi yang telah dikenal dan tertua di nusantara termasuk di Malaysia dan Serawak berangka tahun 998 H atau 1590 M yakni naskah kitab Al Aqaid Al Nasafi, Naskah Tuti Hamzah pada tambo 1600 M, Taj Al Salatin tahun 1602 M (Budi Sulistiono, 1998).

Pada sisi lain, Bengkulu ternyata kekosongan kajian-kajian Keislaman tentang tradisi tulisan huruf Jawi. Akibatnya, rahasia tentang perkembangan Islam di Bengkulu tidak tersingkap, padahal pada tahun 938 H/1530 M Baginda Sebayam telah menulis menggunakan Huruf Jawi. Dari uraian di atas diketahui bahwa naskah tertua adalah tahun 998 H, sedangkan naskah Melayu Bengkulu yakni tahun 938 H. Jadi, naskah Melayu Bengkulu menjadi yang tertua karena lebih tua 60 tahun dari naskah tertua yang telah tercatat hari ini.

Keberadaan ajaran Islam di Sungai Lemau tentunya tidak terlepas dari peran dan fungsi Ulama­Ulama besar yang aktif melakukan kegiatan pengajian dan dakwah Islamiyah sehingga budaya tulis­menulis menggunakan aksara Jawi tumbuh dan berkembang dalam peradaban Sungai Lemau. Peran dan fungsi para Ulama di Sungai Lemau juga didukung oleh partisipasi Raja-raja Sungai Lemau bahkan mereka menjadi pelopor yang mendominasi tegaknya ajaran Islam dalam kerejaan. Untuk itu semua, dilaksanakan pembangunan masjid-masjid guna melaksanakan Sholat Jum'at karena Raja-raja Sungai Lemau sendiri adalah Ulama. Mereka itu antara lain, Baginda Sebayam, Baginda Senanap, Pati Bangsa Raja, Pangeraa Mangku Raja, Pangeran Muhammad Syah. 

Baca Juga: 

Syiar Islam di Bangkahulu (Dinasti Sungai Lemau Bagian I)
Syiar Islam di Bangkahulu (Dinasti Sungai Lemau Bagian II)

Kerajaan Sungai Lemau telah mencatat para Ulama yang berperan melakukan Syiar Islam di Bangkahulu  yaitu, Kiyai Abdus Syukur dari Lembak Beliti Taba Pingin Pucuk Pelembang, H.Daeng Syamsudin ulama besar dari Wajok Bugis kaum kerabat Sutan Balinam (Daeng  Mabella), Tuanku H.Syeikh Khalifah sering melakukan perjalanan pulang pergi Tanjung Sakti-Mekkah, R. Syeikh Khalifah wafat dimakamkan di belakang masjid Tanjung Sakti dekat Sungai Lemau di Kecamatan Pondok Kelapa sekarang. Tuanku H.Syeikh Khalwat dimakamkan 15 M ke arah Selatan dari komplek pemakaman Sultan Baginda Maharaja Sakti dan Putri Gading Cempaka, Haji Kasim seorang Ulama bangsawan dari Aceh, Kanjeng Raden H.Tumenggung Wirio Adiningrat adalah seorang cendekia yang dapat menghargai orang lain, pakar dalam bidang-bidang yang berkaitan dengan bahasa, Keislaman dan kebudayaan daerah banyak suku di Bengkulu serta fasih dalam banyak faham keagamaan dari berbagai bangsa (W.Marsden,  1782) dan, (Wink, 1924). Kanjeng Raden Tumenggung Wiro Adiningrat wafat tahun 1792 dimakamkan di Pekojan Tengah Padang. Syeikh Yusuf dari Bengkulu pernah   tinggal di Banten, dibuang ke Makasar kemudian dibuang ke Ceylon, akhirnya dibuang ke Cape Town, Afrika Selatan, Daeng Makrupa pendiri Mesjid Agung/Jamik, Daeng Indra Alam cucu Syeikh Achmad Gunawi dan Bagdad, Tuan Syeikh Said Muhammad Zen Al Madani dari Hendramaut,  juga H. Junaidi murid utama Tuan  Syeikh Said Muhammad Zen Al Madani yang juga adalah cicit Kanjeng Raden Tumenggung Wirio Adiningrat  anak Sultan Bangkalan Madura, H. Sutan Muhammad Zahab adalah nama besar dari Natal Tapanuli Selatan Sumatera Utara keturunan Raja Natal dan Sutan Inderapura, Raja Abdul Aziz keturunan Daeng Makrupa pendiri Masjid Agung.(Selesai)

Ditulis Oleh: V. Sozi Karnefi Tahun 2000

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close