Pentas Teater Senyawa: Bagaimana bila harapan itu menjadi labirin baru? Lebih memuakkan dari labirin waktu?

Proses latihan Teater Senyawa, Curup.
KOPICURUP,ID - Hidup adalah serangkaian "kebiasaan dan rutinitas". Hubungan sosial, terutama di era teknologi semacam ini, hanyalah sebuah ilusi. Lingkaran rutinitas hanya akan memberi ruang pekat bahkan miniaturisasi, - sialnya, kita akan melangkah satu per satu menuju itu- dan menjauh dari pencarian jati diri. Pencarian atas pertanyaan paling mendasar bagi manusia sejak batu masih menjadi dewa; "who am I".

Bagaimana dengan menunggu? Menunggu adalah merasakan tindak waktu secara pasif, -yang membuatnya menjadi terasa begitu terasa- (sedangkan melakukan sesuatu, juga berarti merasakan tindak waktu secara aktif). Satu hal yang khas bagi manusia ketika bicara waktu adalah bicara tentang menunggu. Hidup hanya menunggu (yang berisi serangkaian kebiasaan dan rutinitas).

Tujuan yang ditunggu adalah "harapan". Entah itu datang ketika masih menghirup nafas, atau mungkin datang setelah kematian. Maka harapan yang menjadi representasi tujuan, muara akhir dari "menunggu". Beckett berkata, tak ada satupun manusia yang bisa berlari dari jam dan hari (waktu). Tidak ada istilah hari kemarin, hari ini atau besok, lusa dan seterusnya. Tidak ada tonggak sejarah, karena kemarin hanya waktu yang sudah (atau mungkin belum) kita kalahkan dan mendeformasi kita dari hari ke hari. Hari ini adalah waktu yang menjelma menjadi lawan berkelahi dan besok adalah calon lawan yang siap menantang kita berkelahi kembali. Tidak ada hari tanpa perkelahian melawan waktu, dan begitulah yang akan terus terjadi.

Manusia tidak pernah berencana menyesalkan waktu yang akan datang, hanya selalu terlambat menyadari ketika waktu telah berlalu. Mungkin ada perkelahian yang belum ia menangkan. Sedangkan perkelahian yang baru telah menunggu di hari ini dan esok.

Maka, akan baik bagi seseorang untuk menikmati kesunyian, melanggar dan melawan rutinitas dan kebiasaan yang telah menjadi penyakit waktu. Kesunyian memberi ruang kontemplasi, sekaligus meditasi. Tapi, apakah itu mengeluarkan ia dari labirin waktu? Entahlah, tapi tetap saja tidak ada kemungkinan untuk itu.

Bagaimana bila harapan itu menjadi labirin baru? Lebih memuakkan dari labirin waktu?

Maka saksikan pentas "Pelukis & Wanita" oleh Sanggar Teater Senyawa yang akan mulai dipentaskan lagi pada Oktober (Bengkulu) dan November (Curup) tahun 2019 ini.  
Penulis naskah dan sutradara pertunjukan Pelukis dan Wanita oleh Teater Senyawa, @adhyra.irianto sudah menyebutkan bahwa proses revisi naskah yang dilakukan pasca pementasan perdana awal Agustus lalu, telah selesai. Selanjutnya, proses latihan sudah mulai berjalan sejak hari Sabtu (27/8/2019).

Pentas kedua ini sedianya akan kembali digelar pada akhir September 2019 mendatang. Adhyra Irianto (pelukis) aktor yang lain, Deni Kurniawan (asisten) dan Wulan Aprianti (wanita), dramaturg Ikhsan Satria pemusik Dhitok dan Hilwa juga sudah melakukan proses latihan. Konsultan karya, Iman Kurniawan juga akan ikut serta pada pementasan kali ini.

Subscribe to receive free email updates: