Sejarah Bengkulu: Kisah Kejayaan Kerajaan Sungai Lemau dan Pertempuran Hebat Benteng Marlborough

Sejarah Bengkulu: Kisah Kejayaan Kerajaan Sungai Lemau dan Pertempuran Hebat Benteng Marlborough

KOPICURUP.ID
- Banyak kisah dan sejarah Bengkulu yang kurang disosialisasikan kepada generasi penerus. Sehingga, sejarah tersebut lambat laun mulai terlupakan. Padahal sejarah tersebut sangat penting untuk diketahui oleh generasi penerus, khususnya generasi di Provinsi Bengkulu.

Yang dikhawatirkan lagi adalah, kisah sejarah itu dikemudian harinya hanya akan menjadi kisah fiksi atau dongeng belaka. Padahal kisah tersebut adalah fakta, bagian dari sejarah Bengkulu hingga saat ini.

Salah satu kisah atau sejarah Bengkulu yang menarik disimak adalah kisah Kerajaan Sungai Lemau di bawah kepemimpinan Tuanku Baginda Pangeran Mangkuraja.

Tuanku Baginda Pangeran Mangkuraja adalah Raja Sungai Lemau menggantikan posisi ayahnya Tuanku Pati Bangsa Raja.

Tidak banyak yang tahu bahwa Baginda Pangeran Mangkuraja adalah cicit dari raja Banten, Sultan Ageng Tirtayasa (SAT).

Baca Juga: Cikal Bakal Tanggal 29 Mei Ditetapkan Sebagai HUT Kota Curup

Ayahnya, Tuanku Pati Bangsa Raja merupakan anak dari Tuanku Pati Bangun Negara yang menikah dengan Ratu Fathimah anak Sultan Ageng Tirtayasa.

Cucu Sultan Ageng Tirtayasa, Tuanku Pati Bangsa Raja mendapat gelar Banten Ratu Bagus Raja.

Selain itu, Baginda Tuanku Pangeran Mangkuraja adalah keturunan ke-13 Raja Bangkahulu Ratu Agung atau keturunan ke-12 dari Baginda Maharaja Sakti dan Putri Gading Cempaka.

Dalam sebuah catatan silsilah, Baginda Tuanku Pangeran Mangkuraja memiliki empat orang anak, di antaranya, 1. Pangeran Muhammadsyah, 2. Nyai Agung, 3. Datuk Rubiah, dan 4.Datuk Nyai.

Disadur dari catatan Syiar Islam di Bengkulu, semasa memimpin Kerajaan Sungai Lemau, Baginda Pangeran Mangkuraja membuat kampung di sebelah kanan mendaki dari pantai, dinamakan tempat itu kampung Bangkahulu.

Pada saat awal pemerintahannya, Baginda Pangeran Mangkuraja membenahi manajemen pemerintahan kerajaan dengan membagi wilayah Kota Bengkulu menjadi empat bagian.

Masing-masing wilayah tersebut disebut Pasar yang dipimpin oleh seorang Menteri yang diberi gelar Datuk.

Jabatan Datuk tersebut diambil dari turunan para Menteri yang menyertai Baginda Maharaja Sakti tatkala melakukan perjalanan dari Pagaruyung ke Bangkahulu (Bengkulu) tahun 1370 M, yaitu Agam, Sumpu, Melalo, Singkarak dan Sending Bungkah.

Keputusan yang dibuat oleh Tuanku Baginda Pangeran Mangkuraja disambut baik oleh Kompeni Inggris guna melancarkan roda pemerintahan Baginda Pangeran Mangkuraja.

Tuanku Baginda Pangeran Mangkuraja menciptakan sistem tata negara baru yang sebelumnya tidak pernah ada dan tidak lazim di zaman leluhurnya.

Pangeran Mangkuraja menetapkan dan mengangkat empat orang Menteri Hilir di Kota Bengkulu untuk mengawasi pemerintahan Inggeris yang melakukan perdagangan dengan pihak Bumi Putera, berkedudukan di wilayah Pasar dan bergelar Datuk.

Di bawah Datuk diangkat oleh Pangeran Mangku Raja Pemangku, untuk empat orang Datuk maka terdapat empat orang Pemangku pula.

Di bawah Pemangku diangkat pula Penghulu Muda. Pemangku dan Penghulu Muda diangkat untuk membantu kelancaran tugas pemerintahan dan perdagangan sebagai sumber kekuatan finansial Kerajaan Sungai Lemau yang bertangung jawab kepada Datuk sesuai wilayah masing-masing.

Di hulu diangkat pula empat orang Menteri Hulu yang membawahi Pesirah. Pesirah berkedudukan memerintah Marga, Pesirah diberi gelar Depati, Pesirah membawahi dan dibantu oleh Pembarap, Pembarap berkedudukan sebagai Pemangku dalam Marga, maka pada tiap-tiap Marga diangkat seorang Pesirah dan seorang Pembarap.

Pembarap bertanggung jawab langsung kepada Pesirah. Di bawah Pembarap diangkat Perwatin yang bergelar Depati Dusun yang wilayahnya meliputi satu Dusun.

Di bawah Perwatin diangkat Pemangku Dusun yang menjadi perpanjangan tangan Perwatin.

Jalur instruksi dari Baginda Pangeran Mangkuraja kepada kompeni Inggeris di hilir dititahkan kepada Menteri/Datuk, dari Menteri turun kepada Pemangku, dari Pemangku turun kepada Penghulu muda.

Di hulu, perintah Pangeran Mangkuraja kepada kompeni Inggeris dititahkan kepada Menteri, dari Menteri turun kepada Pesirah dari Pesirah turun kepada Pembarap dari Pembarap turun kepada Perwatin.

Sejarah Bengkulu: Kisah Kejayaan Kerajaan Sungai Lemau dan Pertempuran Hebat Benteng Marlborough
Makam Tuanku Pangeran Mangkuraja di TPU Kampung Kelawi, saat ini masuk dalam daftar Terduga Cagar Budaya/Foto:Acep/Zuriat Bangkahulu Tinggu

Pertempuran Hebat di Benteng Marlborough

Kemudian datang orang-orang dan Malabari hendak duduk berniaga di Bengkulu. Oleh Tuanku Baginda Pangeran Mangkuraja, mereka itu dititahkan merambah dan membersihkan Padang Perupuk, di ujung tanjung dekat laut sebelah Barat Daya, di sanalah tempat orang Malabari itu.

Lama-kelamaan orang China dan lain-lain bangsapun mulai duduk berniaga pula di Bengkulu dan dititahkan oleh Baginda Pangeran Mangkuraja berbagi dua dengan orang Malabari, sepotong seorang yang menjadi Kampung China dan Berkas.

Lalu orang-orang China itupun membuat rumah kecil-kecil dan rendah­-rendah saja, pokoknya dapat dijadikan tempat berjual-beli dengan orang dari hulu dan dari laut, maka disebut orang Pondok China.

Baca Juga: Bengkulu Tempo Dulu: Kejayaan dan Hubungan dengan Kerajaan Besar

Rakyat Kerajaan Sungai Lemau hidup tenteram dan damai, kegiatan ekonomi dan perdagangan maju pesat, seperti, menjual hasil-hasil hutan, perdagangan lada dan rempah-rempah serta basil bumi dengan pihak kompeni melalui pelabuhan.

Pelabuhan kapal dan perahu kala itu terletak berbadapan dengan Kampung Bangkahulu, tempat Tuanku Baginda Pengeran Mangkuraja duduk memerintah.

Pada masa itu negeri Bangkahulu mulai ramai, kapal banyak masuk keluar, berniaga dengan orang Inggris.

Pada sisi lain, Guberur Joseph Collet pada 1718 mulai menunjukkan pembangkangan terhadap kekuasaan Kerajaan Sungai Lemau, semakin hari ketegangan hubungan tersebut semakin memuncak, pihak pimpinan tertinggi Inggris di India Timur telah menyadari kesalahan yang dilakukan oleh Gubernur Joseph Collet maka dikirimlah Thomas Cooke ke Bengkulu pada tahun itu juga guna mengatasi ketegangan yang tengah terjadi.

Namun, usaha Thomas Cooke gagal. Pada tahun 1719 terjadi perselisihan diantara Baginda Pengeran Mangkuraja dengan pihak Inggris karena orang Inggris mangkir janji serta curang dalam perdagangan rempah-rempah.

Akibatnnya, Kerajaan Sungai Lemau yang dipimpin langsung oleh Baginda Pangeran Mangku Raja sebagai Panglima Perang melakukan operasi tempur gabungan. Diperkirakan pada 17 Maret 1719. 

Benteng Marlborough dari arah Selatan diserang oleh Pasukan Selebar yang terdiri dari orang-orang Lembak yang dipimpin langsung oleh anak mendiang Pengeran Jenggalu, dibantu oleh pengikut-pengikut Ulama Besar Siddy Ibrahim.

Dari Utara Benteng Marlborough diserang oleh pasukan tempur di bawah perintah langsung Baginda Pangeran Mangkuraja yang terdiri dari orang-orang Melayu dan Rejang, dari Timur diserbu oleh angkatan perang dari Sungai Itam, dari dalam Benteng sendiri mereka ditekan oleh pasukan yang dipimpin oleh Daeng Makrupa, dan Daeng Indra Alam.

Di laut kekuatan tempur dari pangkalan Muara Sungai Lemau Balai Buntar bergabung dengan kekuatan tempur dari Kampung Bangkahulu didukung dengan pasukan bantuan dari anak Sungai Mukomuko.

Akibatnya, Benteng Inggris dapat dikuasai, kantor dagang Inggris dibakar habis, bangsa Inggris banyak yang mati terbunuh dan tertangkap.

Sedangkan yang masih hidup melarikan diri lintang pukang-terbang hambur, sangat ketakutan malalui jalan rahasia bawah tanah menuju kapal-kapal yang tersedia ke tengah laut menuju India.

Setelah kejadian tersebut selama 6 bulan pihak Inggris tidak pernah muncul lagi. Secara tiba-tiba pihak Inggris mengutus pejabat tingginya menemui Baginda Pangeran Mangkuraja menyadari kekeliruanya dan meminta maaf sekaligus berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan itu.

Akhirnya mereka diterima kembali untuk menempati benteng Marlborough. Pada saat itu, Baginda Pangeran Mangku Raja semakin disegani, kekuasaanya semakin bertambah kuat, sehingga Kerajaan Sungai Lemau semakin berpengaruh di Nusantara (Lihat J.K.Wells, 1977).

Keberhasilan rakyat Bengkulu, yang bersatu-padu mengusir penjajah Inggris ini menjadi cikal bakal Hari Jadi Kota Bengkulu, yang diperingati setiap 17 Maret setiap tahunnya.


Syiar Islam di Bengkulu

Baginda Pangeran Mangku Raja sebagai seorang ulama juga melakukan dakwah syiar Islam untuk kepentingan jemaah menunaikan Sholat Jumat.

Berdasarkan ketentuan Fiqih Islam jika jumlah jemaah sudah mencapai batas minimal 40 orang maka umat Islam di daerah itu dikenakan kewajiban melaksanakan Sholat Jumat.

Segera pada tahun 1687 Baginda Pangeran Mangkuraja menitahkan pembangunan masjid yang diberi nama Al Mujahidin di Pasar Bangkahulu berhadapan dengan kampung Tuanku sendiri. Sampai hari ini, masjid tesebut masih berdiri kokoh.

Tuanku Baginda Pangeraa Mangku Raja mangkat pada tahun 1720 karena sakit ringan, dimakamkan berdampingan dengan besannya Sutan Balinam.

Sejarah Bengkulu: Kisah Kejayaan Kerajaan Sungai Lemau dan Pertempuran Hebat Benteng Marlborough
Kondisi terkini Masjid Al Mujahidin yang dibangun oleh Baginda Tuanku Pangeran Mangkuraja pada tahun 1687_kopicurup

Makam Baginda Pangeran Mangkuraja dibuat berbentuk kubah yang ditopang oleh tiang-tiang sebesar batang kelapa dengan kubah yang lebih tinggi darl kubah makam Sutan Balinam.

Di komplek pemakaman tersebut juga dimakamkan istri Baginda Pangeran Mangkuraja, Ibu Suri Baginda Pangeran Muhammad Syah serta Encik Siah.

Kompleks pemakaman ini oleh masyarskat Pasar Bengkulu, Kampung Bali dan sekitarnya disebut Gobah (Raden Ahmad, 1972).

Saat ini, lokasi gobah tersebut terletak di sebelah Kantor Kelurahan Kampung Kelawi, namun kondisinya telah porak-poranda. Berdasarkan keterangan orang-orang tua setempat Gobah tersebut sengaja dibakar dan rusak.

Kemudian Baginda Pangeran Mangkuraja digantikan oleh Sang Putra Mahkota naik tahta menjadi raja yang bergelar Pangeran Muhammad Syah.

Tuan Baginda Pangeran Muhammad Syah pindah dan bersemayam kembali di Balai Buntar. Istana Mendiang Tuanku Baginda Pangeran Mangkuraja di Bangkahulu diserahkan kepada Datuk Nyai, istri Daeng Makulle atau adik kandung paling bungsu Tuanku Baginda Pangeran Muhammad Syah.

Segala hal ihwal di Bengkulu diserahkan kepada Daeng Makulle dan Pada waktu-waktu tertentu saja Tuanku Baginda Pangeran Muhammad Syah memeriksa roda perintahan di Bengkulu.***

Penulis: Iman Kurniawan

(Sumber: Dinasti Sungai Lemau disusun Sozi Karnefi)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close